Selasa, 11 Oktober 2011

RAUMANEN (Sinopsis novel Marianne Katoppo)



Novel ini secara ringkas menceritakan kisah cinta dua orang remaja yang berbeda latar belakang adat dan budaya. Raumanen, atau sering dipanggil Manen adalah seorang gadis Menado yang tinggal di Jakarta. Ia seorang gadis berusia 18 tahun, berwawasan luas dan aktif di suatu organisasi. Sementara si lelaki bernama Monang, seorang insinyur muda yang energik, berdarah Batak.

Dua orang pria dan wanita ini juga memiliki karakter yang berbeda. Manen, sebagai gadis yang baru berusia 18 tahun masih sangat lugu berbicara soal cinta, sementara Monang sebagai seorang insinyur muda sangat senang berganti-ganti pacar.

Pertemuan mereka dimulai ketika Manen mengukuti kegiatan organisasi. Di tempat itulah Manen bertemu dan berkenalan dengan Monang. Sejak saat itulah bereka berdua sering bertemua. Teman-teman Manen selalu mengingatkan Manen agar berhati-hati, karena mereka tahu siapa Monang, lelaki perlente yang sangat senang gonta-ganti pacar.Tetapi peringatan teman-temannya itu tidak diperhatikan Manen. Ia selalu mengatakan pada teman-temannya bahwa hubungan mereka sebatas kakak dengan adik saja.

Namun hari demi hari, bersemi juga rasa cinta Manen terhadap Monang. Pun perasaan Monang pada Manen juga berubah. Monang merasa bahwa Manen tidak seperti gadis-gadis yang telah ia pacari. Pendek kata, Monang merasa bahwa Manenlah gadis yang selama ini ia idam-idamkan.

Melihat kenyataan ini, teman-teman Manen kembali memberi peringatan. Tidak kurang ibu Manen juga memberikan nasihat agar Manen serius dalam kuliah dulu. Semua nasihat ini tidak digubris Manen. Dua laki-laku dan wanita itu sudah saling jatuh cinta. Hingga perbuatan yang dilarang agama pun terjadi d sebuah bungalaow di Cibogo, Puncak.


Monang berjanji pada Manen bahwa dirinya akan bertanggung jawab jika terjadi sesuatu pada Manen. Monang akan menikahi Manen. Tetapi sejak peristiwa itu, batin Manen menjadi tidak tenang. Meski Monang telah bersumpah akan menikahinya, meskipun pula lelaki itu telah mengenalkan dirinya kepada kedua orang tuanya. Gadis muda belia itu selalu khawatir jika Monang tidak benar-benar cinta terhadap dirinya, karena Monang sangat jarang menyatakan perasaan cinta secara lisan. Padahal Monang sangat sayang dan cinta kepada Manen.

Peristiwa di Puncak itu terus berulang hingga pada akhirnya Manen hamil. Monang yang mengetahui kekasihnya hamil menjadi sangat senang. Monang membujuk orang tuanya agar menikahkan mereka. Tetapi alangkah mengejutkan, orang tua Monang tidak menyetujui pernikahan beda suku itu. Namun, Monang tetap bertekad akan menikahi Manen meski tanpa restu orang tua.

Di sisi lain, Manen sebagai gadis belia selalu saja khawatir. Kekhawatiran itu semakin menjadi-jadi ketika hasil pemeriksaan dokter menyatakan bahwa bayinya akan lahir cacat. Hal itu disebabkan penyakit siphilis yang dibawa oleh Monang. Dokter menyarankan agar mereka menggugurkan kandungan, tetapi Monang tidak sepakat karena ia sangat ingin memiliki seorang anak dari darah dagingnya.

Di tengah ketersiksaan diri itulah, Gadis belia Manen mengambil keputusan yang tidak diduga-duga. Peristiwa di puncak yang sesungguhnya dilarang agama itu kembali membayanginya. Bayangan Monang yang sangat jarang mengucapkan rasa sayang secara lisan kepadanya. Ketidaksejuan orang tua Monang atas hubungan mereka, perasaan bersalah dan berdosa Manen kepada ibunya, kepada teman-temannya bercapur aduk menjadi satu. Karena tidak tahan mengalami siksaan batin itu, akhirnya Manen bunuh diri.***


Catatan:

Novel Marianne Katoppo ini sangat sering dibahas dan dibicarakan para pengamat sastra. Dari sisi teknik berceritanya, novel ini memang memiliki keunikan-keunikan. Novel ini juga berhasil memenangkan penghargaan dari dalam maupun luar negeri.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar